Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Sebuah jawab untuk sebuah tanya

 Akhir akhir ini terkadang mempertanyakan takdir Tuhan.

Ada sebersit "tanya" pada perihal yang sudah ditau "jawabnya", ya karena ini sudah "ketetapanNya"


Tapi namanya manusia, ada saja "rasa" yang menyeruak di dada


Mungkin ini benar adanya dari kalimat yang pernah ku baca


"Kenapa pada rukun iman yang terakhir bukanlah hari kiamat? Melainkan qada dan qadr"


Padahal kiamat itu momok yang begitu menakutkan. 


Karena mungkin ujian iman yang paling berat itu bukan saat segalanya berakhir, melainkan saat diri ini hidup, dan diharuskan menerima kenyataan yang kita sendiri tidak bisa memilih.

Tetap harus percaya meski hati tak sepenuhnya mengerti.


Ada waktu ketika berhadapan dengan realita, "seandainya dulu".


Ada masa, aku pernah diposisi benar benar menerima takdir ini. Ah, jika ini yang terjadi, maka memanglah yang terbaik, kondisi fisik ini hanya membatasi sekian dari banyaknya kesempatan yang Tuhan beri. Bukan karena memandang penderitaan orang sebagai konteks bersyukur, tapi terkadang dengan melihat orang yang kondisinya "lebih" ada penenangan untuk diri, bahwa memang semua di "Uji" dengan hal hal yang tidak diinginkan.


Dan memang meyakini akan iman qada dan qadr ini haruslah sampai mati. Tetap percaya meski hidup tak sesuai doa.


Puncak iman kepada takdir adalah ridha,

dan ridha itu lahir setelah sabar yang panjang.


Semoga diri ini selalu diberi sabar yang luas hingga mampu menerima semua ketetapanNya. Walau tertatih, semoga selalu dekat dengan rahmatNya.



#disudutkamar 23.55 wita

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar